Dirjen Badilag: Anda Semua Calon Imam, tapi Ada Syaratnya

Terbit 23 Maret 2017 | Oleh : Redaksi | Kategori : Berita / Informasi Publik
Dirjen Badilag: Anda Semua Calon Imam, tapi Ada Syaratnya

pa-sambas.go.id l badilag.mahkamahagung.go.id

BEKASI – Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI Drs. H. Abdul Manaf, M.H. punya banyak petuah untuk para peserta Training of Trainers SIPP Tahap I.

Ketika memberi sambutan pada pembukaan acara tersebut, Selasa (21/3/2017) di Bekasi, Dirjen Badilag menekankan pentingnya teknologi informasi untuk proses administrasi perkara di peradilan agama.

“Sebelumnya kita punya Pola Bindalmin (Pola Pembinaan dan Pengendalian Administrasi Perkara—red). Pola Bindalmin itu kemudian diotomasikan dalam wujud SIADPA dan diteruskan dengan SIPP,” ujarnya.

 Agar SIPP terimplementasikan dengan baik, diperlukan pembimbing dan panutan dalam diri para trainer yang nanti akan ditetapkan menjadi anggota satuan tugas.

“Jadi, saudara-saudara ini calon imam, tapi ada syarat-syaratnya,” kata Dirjen Badilag, kepada para peserta ToT SIPP Tahap I yang berjumlah 30 orang, dari wilayah Jawa dan Sumatera.

Seorang imam, menurut Dirjen Badilag, harus pandai bersyukur. Rasa syukur itu pertama-tama karena telah mengalami kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan kondisi masa lalu, misalnya dalam hal kesejahteraan dan fasilitas. Rasa syukur juga bisa ditumbuhkan, lantaran telah diundang untuk mengikuti kegiatan ini.

“Di antara 11 ribu hakim dan pegawai peradilan agama, hanya Saudara-saudara yang dipilih,” kata Dirjen Badilag.

Menurutnya, rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk kinerja yang baik dan ikhlas beramal, bukan beramal seikhlasnya.

Rasa syukur juga dapat ditunjukkan dengan cara mentaati segala peraturan. Dirjen Badilag tidak ingin, meningkatnya kesejahteraan dan fasilitas malah membuat ketaatan terhadap peraturan menjadi berkurang. “Padahal waktu miskin taat aturan bukan main,” ujarnya.

Syarat berikutnya untuk menjadi imam ialah harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar di kantor, dimulai dari hal kecil seperti menjaga kebersihan kantor hingga hal yang besar seperti mencegah terjadinya penyimpangan di tempat kerja.

Syarat lain yang disebut Dirjen Badilag ialah harus bisa menjaga ahlaqul karimah. “Kita ini sekarang bekerja di akuarium. Belajarlah jadi ikan-ikan yang baik. Sekecil apapun kejahatan kita, itu terpantau,” ia mengingatkan.

Selanjutnya, untuk menjadi imam, tidak boleh berhenti belajar untuk menambah ilmu. “Jangan kurang-kurang baca. Jangan hanya membuka situs Badilag kalau ada pengumuman TPM saja!”

Selain itu, seorang imam juga harus loyal kepada atasan dan memberi bimbingan kepada yang di bawah. “Terutama membimbing yang belum paham TI,” Dirjen Badilag menambahkan.

Dirjen Badilag mengaku sangat bahagia, kegiatan ini diikuti oleh orang-orang muda yang potensial, antusias dan berdedikasi.

“Saya titip peradilan agama. Saya yakin, di tangan Saudara-saudara, peradilan agama akan semakin maju,” Dirjen berpesan.

(Sumber: badilag.mahkamahagung.go.id /22/03/2017)

SebelumnyaEKSPOSE HASIL PENGAWASAN HATIBINWASDA DAN PEMBINAAN WAKIL PTA PONTIANAK SesudahnyaMA Tetapkan Mekanisme Pengadaan Hakim PN, PA dan PTUN

Berita Lainnya

0 Komentar