Pilih Laman

Usaha untuk terus meningkatkan kapasitas hakim peradilan agama dalam bidang ekonomi syariah terus digalakkan. Salah satunya melalui diskusi-diskusi. Seperti acara diskusi panel yang digelar Kamar Agama Mahkamah Agung dan Ditjen Badilag pada Jum’at (4/9/2015) kemarin.

Diskusi panel yang bertema “Recent Development and Legal Epistemology of Halal Economy”, yang berlangsung di lantai 1 Gedung Sekretariat MA, Jalan Ahmad Yani Jakarta Pusat itu dihadiri lebih dari 100 hakim peradilan agama se-Jabodetabek dan Banten.

Menariknya, diskusi ini menghadirkan tiga pembicara ahli dari kampus-kampus di Eropa. Mereka adalah Aff. Prof. Eng. Marc Deschamps, dosen Brussels University dan Liege University, Belgia dan Dr. Naser Al Ziyadat, dosen Durham University, Inggris. Sedangkan pembicara lainnya adalah Dr. Hayyan ul Haq. Meskipun masih memiliki passport Indonesia, Dr. Hayyan Haq adalah dosen tetap Universitas Utrecht Belanda dan sudah lebih dari 10 tahun tinggal di negeri Kincir Angin tersebut.

 

Wakil Ketua MA Bid. Non Yudisial, H. Suwardi, S.H., M.H., yang membuka acara tersebut menyambut baik kegiatan disksusi. Menurutnya, problematika seputar ekonomi syariah kian hari makin berkembang. Oleh karenanya hakim peradilan agama harus terus meningkatkan kapasitas diri untuk dapat mengantisipasi peliknya sengketa ekonomi syariah di peradilan agama.

“Kegiatan seperti ini penting digalakkan untuk meningkatkan kapasitas hakim dan aparatur peradilan agama. Kian hari persoalan hukum ekonomi syariah akan semakin komplek. Kita harus siap,” kata Waka MA Bid. Non Yudisial.

Sedangkan Ketua Kamar Agama, Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H., S.Ip., M.Hum., dalam sambutannya menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas hakim peradilan agama terkait hukum ekonomi syariah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Selain diskusi seperti ini. Kita juga melakukan kerja sama dengan berbagai instansi dalam dan luar negeri. Pelatihan dan studi banding ekonomi syariah juga sering kita lakukan. Sistem dan peraturan juga kita siapkan. Semuanya dilakukan agar penanganan sengketa ekonomi syariah dapat diselesaikan secara profesional,” ungkap Prof. Manan.

Acara yang berlangsung sampai dengan pukul 15.30 itu dimoderatori oleh Hakim Agung Syamsul Ma’arif, S.H., LL.M., Ph.D.

Hadir juga sejumlah hakim agung dan beberapa ketua pengadilan tinggi agama dan mahkamah syar’iyah. Hakim tinggi, ketua pengadilan, wakil ketua pengadilan, dan hakim peserta diskusi terlihat antusias mengikuti jalannya diskusi sampai selesai.

Prof. Marc Deschamps dan Dr. Naser Al Ziyadat secara tandem menyampaikan materi “Halal Industry; Perceptions, Perspectives and Benefits”. Prof. Deschamps juga adalah Managing Director Halal Club Brussels, sedangkan Dr. Naser adalah Special Advisor Halal Club untuk wilayah ASEAN.

Sementara itu, Dr. Hayyan ul Haq menyampaikan makalah “Legal Epistemology in Constructing and Strengthening Halal Economy”.

Pesan Ketua Kamar

Di sela-sela diskusi ketika berbincang dengan Badilag.net, Ketua Kamar Agama berpesan kepada seluruh hakim peradilan agama agar memperhatikan masalah halal ini. Ada 3 jenis halal yang harus diingat hakim peradilan agama dalam masalah penghasilan, katanya.

“Pertama, halal dalam mencari (penghasilan). Kedua, halal dalam mengkonsumsi dan ketiga, halal dalam mendistribusi,” tegas Prof. Manan.

Ketua Kamar juga mengingatkan bahwa rizki yang tidak halal hanya akan membawa madharat tidak hanya untuk diri pribadi tapi juga untuk keluarga dan keturunannya, kata Prof. Manan kepada Badilag.net.

sumber : Badilag.net